Monday, June 11, 2018

Ulasan Seputar Keamanan Mengonsumsi Micin (MSG)


Sudah diterbitkan di Koran Harian Sumedang Ekspres edisi 14 Mei 2018

Micin, Penyebab Utama Generasi Micin. Benarkah?

Oleh: Jafar Syidik

            Akhir-akhir ini kita sering sekali mendengar istilah generasi micin. Generasi micin ditujukan kepada anak-anak zaman now yang diduga terlalu banyak mengonsumsi micin sehingga sering melakukan hal-hal bodoh . Apakah memang benar mengonsumsi micin bisa membuat seseorang mengalami penurunan kecerdasan bahkan membuat satu generasi menjadi sekumpulan orang bodoh? Sebelum membahas hal tersebut, ada baiknya kita kenali lebih jauh apa sih micin itu?

Apa itu Micin?
            Micin atau MSG atau monosodium glutamat merupakan garam yang molekul penyusunnya berupa sodium/natrium (Na) dan glutamat. Sebagai perbandingan, garam dapur yang biasa kita gunakan itu sodium klorida atau rumus molekulnya NaCl. Jadi bedanya MSG dengan garam biasa adalah Cl-nya diganti dengan  glutamat..
            Glutamat sendiri merupakan asam amino non esensial bagi kita. Asam amino non esensial ini bukan berarti asam amino yang tidak penting untuk tubuh  kita, tetapi merupakan asam amino yang bisa diproduksi sendiri di dalam tubuh. Glutamat terdapat secara alami di hampir seluruh makanan yang kita makan, mulai dari ikan, daging, susu, sayur, hingga buah-buahan.

Fungsi dan Dosis Micin
            Saat ini, micin atau MSG sudah secara luas digunakan sebagai penyedap makanan di dunia, mulai makanan instan seperti baso, sup-sup kalengan sampai makanan ringan yang ada di warung-warung. Tapi kenapa, sih, micin bisa membuat  makanan jadi terasa enak?  micin bekerja dengan memperkuat rasa alami dari berbagai makanan, seperti daging, ikan, sayur, dll. Nah, micin ini bisa memperkuat rasa karena glutamatnya. Rasa gurih yang dihasilkan oleh micin itu ternyata bukan berasal dari jenis rasa yang sudah umum kita kenal, seperti manis, asam, asin, pahit.. Rasa enak dari micin ini memiliki  jenis rasa yang lain. Lidah manusia punya reseptor tersendiri untuk rasa gurih dari Glutamat. Orang-orang Jepang menyebut rasa gurih ini dengan rasa “umami”. .
            Dosis micin yang direkomendasikan oleh U.S Food and Drug Administration (FDA) adalah sekitar 30 miligram per berat badan. Misalnya, seseorang dengan berat badan 100kg, maka dosis micin yang direkomendasikan  untuk orang tersebut adalah sekitar 3 gram/hari. Itu sebanyak apa sih? Jika diasumsikan bahwa micin yang ditambhakan ke dalam satu  mangkok baso adalah sekitar 0,5 gram. Maka orang tersebut dalam satu hari penuh jika hanya mengonsumsi bakso saja diperbolehkan mengonsumsinya sampai maksimal 6 mangkok baso.Tentu hitung-hitungan ini hanya mempertimbangkan konsumsi dari sudut pandang micinnya saja.

Bagaimana  Tubuh Kita Merespon Micin?
            Menurut  U.S Food and Drug Administration (FDA), micin atau MSG yang kita konsumsi akan  dipecah oleh sistem pencernaan menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat. Kedua bahan ini akan bernasib sama dengan Na alami dan glutamat alami. Na akan menjadi ion yang terlibat dalam berbagai macam proses di dalam tubuh. Sedangkan 95% glutamat yang dikonsumsi akan dimetabolisme oleh sel-sel usus halus dan akan diubah menjadi energi untuk menjalankan pencernaan di usus halus itu sendiri. Sisa 5%-nya digunakan untuk membentuk protein atau dijadikan prekursor untuk menghasilkan senyawa-senyawa lain, seperti glutathione, arginine, dan proline. Oiya buat yang belom tau, prekursor adalah zat atau bahan pemula untuk memulai proses biosintesis. Kelebihan Na atau Glutamat di dalam tubuh akan direspon oleh tubuh dengan mengeluarkannya dalam bentuk urin.

Jadi, Apakah Micin aman dikonsumsi?
            Menurut FDA, micin atau MSG dikategorikan sebagai zat yang cukup aman dikonsumsi. Tapi tetap harus diingat, “aman” menurut FDA itu jika dosisnya sesuai dengan rekomendasi mereka. Tetapi jika memang micin itu aman dikonsumsi, mengapa banyak stigma negatif seputar micin, bahkan ada yang mengatakan bahwa mengonsumsi micin bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Langsung saja kita bahas.

Micin Mengakibatkan Kebodohan?
Sama seperti di organ tubuh lainnya, glutamat juga berperan dalam metabolisme energi dan protein di otak. Selain itu, glutamat memiliki fungsi lebih pada otak, yaitu sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter berperan untuk menyampaikan sinyal-sinyal dari sel saraf ke sel target, seperti sel otot atau sel endokrin (kelenjar hormon). Namun, kadar glutamat berlebih  di otak memang dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Pada tahun 1960, peneliti dari Washington University menemukan bahwa MSG dengan dosis sekitar 4gram/kg berat badan memiliki efek merusak jaringan otak tikus baru lahir (umur 2 sampai 9 hari) . Tapi ternyata hasil ini dianggap tidak valid untuk membuktikan MSG itu berbahaya. Dosisnya terlalu besar yaitu 4gram/kg untuk tikus baru lahir. Jika kita bayangakan, MSG-nya lebih dari kadar MSG 6 mangkok baso yang sudah kita coba hitung di atas, selain itu subjek penelitiannya bayi tikus yang kecil pula.
            Penelitian lain pada tahun 1970, Bazzano, D’Elia dan Olson  melakukan penelitian pada 11 relawan dewasa. Setiap orang diberikan asupan glutamat sampai dengan 100gram per hari selama 42 hari. Setiap harinya, para peneliti mengawasi status kesehatan para relawan dan ngeliat efek glutamat yang diberikan ke sistem syaraf. Sampai hari ke-42, tidak ditemukan bukti bahwa micin dapat merubah struktur maupun fungsi sistem syaraf para relawan tersebut.
Dengan demikian, anggapan yang mengatakan micin menyebabkan kebodohan tidak punya landasan bukti yang valid. Micin itu tidak membuat bodoh, kecuali kamu makan 20 mangkok bakso setiap hari selama sebulan penuh kali, ya. Kalau itu sih, gak perlu makan micin juga orangnya memang sudah bodoh.
            Kesimpulannya, generasi micin tidak terbukti disebabkan oleh terlalu banyaknya konsumsi micin. Walaupun begitu, ada baiknya kita mengonsumsi MSG sesuai dengan patokan batas amannya, yaitu 30 miligram per berat badan per hari.

Peringatan!!!
Dilarang meng-copy post ini secara illegal, kecuali jika kamu mendapatkan izin dari penulis atau dengan mencantumkan sitasi URL pada blog atau tugasmu.
Hargailah penulis OK!!!

Fakta Ilmiah di Balik Besarnya Kemasan Makanan Ringan


Sudah diterbitkan di Koran Harian Sumedang Ekspres edisi 14 Mei 2018

Kemasannya Besar, Tapi Kok Isinya Sedikit?

Oleh: Muhammad Rijal Senjaya
          Pernahkan Anda menemukan sebuah makanan ringan atau snack yang berukuran begitu besar dan berangin (berisi udara), tetapi ternyata isinya tidak seberapa? Pernahkah Anda berpikir bahwa hal tersebut merupakan suatu bentuk penipuan yang dilakukan oleh produsen terhadap konsumen? Ataukah Anda berpikir sebaliknya? Tentu Anda lebih tahu jawabannya. Kemasan berangin biasanya kita jumpai hampir pada setiap kemasan produk makanan camilan, seperti keripik, kerupuk, wafer, sereal,  dan lain sebagainya. Hal ini tentu bukanlah suatu hal yang baru dan unik. Namun tahukah Anda, bahwa kemasan yang berangin merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh produsen untuk memperpanjang umur simpan suatu makanan.
            Terkadang kita berpikir bahwa kemasan yang berangin merupakan suatu bentuk pengelabuan yang dilakukan industri pangan agar produknya dianggap memiliki harga murah tetapi isinya banyak, padahal yang terjadi sebaliknya. Namun, dibalik semua itu, ada satu hal yang sangat penting yakni untuk mencegah terjadinya sluggish atau melempem.
            Melempem (sluggish) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut makanan yang bertekstur kering dan renyah yang tiba-tiba lembek akibat terpapar uap air di udara bebas. Perlu diketahui bahwa udara disekitar kita mengandung uap air yang sangat banyak jumlahnya, apalagi di negara kita yang beriklim tropis. Makanan ringan memiliki struktur yang tidak padat alias mengembang. Dengan struktur tersebut, uap air dari udara bebas sangat mudah untuk terperangkap yang akhirnya terserap dan membuat makanan kurang renyah atau mengembang.
            Sekarang timbul pertanyaan, bukankah dengan pemberian udara pada kemasan semakin mempermudah makanan untuk menyerap uap air? Tentu saja tidak. Udara yang digunakan bukanlah udara seperti udara bebas di sekeliling kita. Udara yang digunakan adalah udara yang telah dimodifikasi atau istilah ilmiahnya modified atmosphere packaging (MAP). Udara yang dimodifikasi ini, kandungan terbesarnya berupa gas nitrogen, selain karbon dioksida dan oksigen. Dengan demikian, kondisi udara yang penuh dengan uap air sudah tidak terjadi lagi di dalam kemasan.
Selain mencegah terjadinya melempem pada snack, mekanisme MAP ini juga bertujuan untuk mencegah pertumbuhan mikroba, reaksi oksidasi, dan paparan sinar matahari juga untuk memberikan kestabilan pada produk dalam proses pendistribusiannya.
Dilansir dari situs wittgas.com, terdapat beberapa manfaat ketika kita memanfaatkan teknologi MAP pada produk makanan. Pertama, produk makanan akan memiliki kecepatan kerusakan yang sangat lambat, apalagi jika dikombinasikan dengan proses pendinginan. Umur simpan produk akan meningkat dua kali lipat sehingga kualitasnya dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Kedua, teknologi ini dapat mengurangi limbah yang diakibatkan oleh kerusakan produk. Ketiga, dapat memperluas distribusi produk hingga ke penjuru dunia karena umur simpan produk yang tahan lama. Keempat, MAP mampu mereduksi bahkan menghilangkan bahan-bahan pengawet yang digunakan untuk mengawetkan makanan. Terakhir, kelebihan penggunaan MAP yaitu mampu meningkatkan kenampakan produk sehingga lebih menarik minat konsumen.
Kelebihan-kelebihan tersebut terbukti melalui hasil penelitian Susilo dkk. (2015) bahwa dengan metode atmosfer termodifikasi, jamur tiram putih dapat bertahan selama 3 hari pada perlakuan A (21 % O2) dan B (12,4 – 12,5 % O2), dan bertahan selama 4 hari pada perlakuan C (9,2 – 9,3 % O2), D (5,9 – 6,1 % O2), dan E (3,5 – 3,7 % O2). Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Sianipar (2010) bahwa fillet ikan yang disimpan dalam kemasan pada suhu ruang dengan komposisi gas 60% CO2/40% N2 mampu menambah masa simpan 1-4 jam.
Di samping itu, ada pula keterbatasan dari penggunaan teknologi MAP. Dilansir dari witt.com, produk  berkemasan MAP beresiko mengalami kegagalan karena prosesnya yang cukup rumit. Misalnya, diperlukan kecermatan dalam mengatur kadar gas yang digunakan, memastikan bahwa kemasan tidak bocor dan tidak terkontaminasi gas lain, dan lain sebagainya. Kemudian, teknologi ini juga dinilai kurang ekonomis. Selain itu, teknologi ini juga mampu mempengaruhi mutu produk. Misalnya, konsentrasi gas CO2 yang tinggi dapat membuat gas CO2 terserap oleh produk dan membuat makanan menjadi asam.    
            Produk-produk makanan yang memakai teknologi MAP dalam pengemasannya bukan hanya snack, tetapi juga produk daging dan sosis, produk ikan dan seafood, produk susu, roti, kue, buah, sayur, pasta, daging siap santap, kacang-kacangan, wine, dan kopi.
            Dengan demikian, pemberian udara kemasan pada makanan ringan atau snack bukan lah suatu muslihat atau itikad buruk dari industri pangan untuk menjebak konsumennya. Namun, jauh lebih penting dari itu adalah supaya kualitas produk yang dikemas dapat dipertahankan lebih lama dan tidak mudah mengalami kerusakan. Jadi, jangan ragu lagi untuk membeli produk dengan kemasan yang berangin ya!

Referensi:

Susilo, B., Agustiningrum, D. A., & Indriani, D. W. (2017). Pengaruh Penyimpanan Atmosfer Termodifikasi (Modified Atmosphere Storage/MAS) terhadap Karakteristik Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Agritech36(4), 369-378.
Wittgas. How Modified Atmosphere Packaging Extends The Shelf Life of Food Products. Diakses tanggal 03 Mei 2018. Terdapat di https://www.wittgas.com/us/consulting-service/white-papers/modified-atmosphere-packaging.html
Sianipar, E. H. 2010. Pengaruh Pengemasan Atmosfer Termodifikasi PAda Fillet Ikan Patin (Pangasius hypopthalamus) dalam Penyimpanan Susu Ruang dan Suhu Dingin. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Kota Bogor.

Peringatan!!!
Dilarang meng-copy post ini secara illegal, kecuali jika kamu mendapatkan izin dari penulis atau dengan mencantumkan sitasi URL pada blog atau tugasmu.
Hargailah penulis OK!!!

Cara Menggunakan Alat Texture Analyzer


Assalamu'alaikum guys, selamat pagi!
Ada apa nih? ada apa?
Gini guys, sekarang aku mau ngasih tau kalian sesuatu
Apatu?


Ini nih videoku yang terbaru.
Setelah kemarin aku upload video tutorial cara menggunakan alat viskometer digital, sekarang akau mau nunjukin ke kalian cara menggunakan alat texture analyzer.

Jadi guys, Texture Analyzer itu adalah instrumen yang bisa digunakan untuk mengukur nilai tekstur, seperti kekerasan, fracturness, chewiness, gumminess, kekuatan gel, kekuatan pecah, kelengketan, kekompakan, kelenturan, ketahanan, ketegasan, kerapuhan, atau kerja penetrasi.

Tes yang aku pake adalah Analisis Profil Tekstur (TPA), Uji Kompresi, dan Uji Tusukan. Ngomong-ngomong, sampel yang aku pake itu mentega yaa.

Kenapa sih kita harus pake alat texture analyzer buat nganalisis tekstur, khususnya bahan pangan?
Nah guys, biasanya kan kita nilai tekstur makanan itu pake alat indera kita sendiri ya? Nah, penilaian itu tuh ga se-objektif penilaian kalau kita pake alat loh. Selain itu, kalau kita pake alat, penilaiannya bisa lebih dipercaya dan tentunya lebih konsisten. Alat ini cuma bisa kamu pake di laboratorium loh (maaf so tau hehe). Iya, karna alat ini biasanya digunain buat kepentingan penelitian atau pembelajaran. By the way, aku dapet alat ini di laboratorium kampusku hehe.

Oke guys segitu aja dulu ya, semoga membantu kalian buat lebih banyak tau.
Semangat terus dan selamat belajar!

Friday, June 8, 2018

Cara Menggunakan Viskometer (How to Use Viscometer)


Assalamua,alaikum
Halo guys, udah lama nih aku ga buat postingan.
Nah disini aku bakal ngasih sesuatu buat kalian
Apa tuh? apa tuh?
Yuk langsung aja, caw!

Nah, ini dia video tutorial tentang cara menggunakan viskometer. Yuk ah ditonton! Selamat Belajar!


Viskometer adalah alat untuk mengukur nilai viskositas. Dalam video ini, aku mau ngasih tau kalian tentang cara menggunakannya secara umum. Walaupun singkat, semoga video ini bermanfaat untuk kalian ya! hehe

Semangat terus dan selamat belajar!