Monday, June 11, 2018

Fakta Ilmiah di Balik Besarnya Kemasan Makanan Ringan


Sudah diterbitkan di Koran Harian Sumedang Ekspres edisi 14 Mei 2018

Kemasannya Besar, Tapi Kok Isinya Sedikit?

Oleh: Muhammad Rijal Senjaya
          Pernahkan Anda menemukan sebuah makanan ringan atau snack yang berukuran begitu besar dan berangin (berisi udara), tetapi ternyata isinya tidak seberapa? Pernahkah Anda berpikir bahwa hal tersebut merupakan suatu bentuk penipuan yang dilakukan oleh produsen terhadap konsumen? Ataukah Anda berpikir sebaliknya? Tentu Anda lebih tahu jawabannya. Kemasan berangin biasanya kita jumpai hampir pada setiap kemasan produk makanan camilan, seperti keripik, kerupuk, wafer, sereal,  dan lain sebagainya. Hal ini tentu bukanlah suatu hal yang baru dan unik. Namun tahukah Anda, bahwa kemasan yang berangin merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh produsen untuk memperpanjang umur simpan suatu makanan.
            Terkadang kita berpikir bahwa kemasan yang berangin merupakan suatu bentuk pengelabuan yang dilakukan industri pangan agar produknya dianggap memiliki harga murah tetapi isinya banyak, padahal yang terjadi sebaliknya. Namun, dibalik semua itu, ada satu hal yang sangat penting yakni untuk mencegah terjadinya sluggish atau melempem.
            Melempem (sluggish) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut makanan yang bertekstur kering dan renyah yang tiba-tiba lembek akibat terpapar uap air di udara bebas. Perlu diketahui bahwa udara disekitar kita mengandung uap air yang sangat banyak jumlahnya, apalagi di negara kita yang beriklim tropis. Makanan ringan memiliki struktur yang tidak padat alias mengembang. Dengan struktur tersebut, uap air dari udara bebas sangat mudah untuk terperangkap yang akhirnya terserap dan membuat makanan kurang renyah atau mengembang.
            Sekarang timbul pertanyaan, bukankah dengan pemberian udara pada kemasan semakin mempermudah makanan untuk menyerap uap air? Tentu saja tidak. Udara yang digunakan bukanlah udara seperti udara bebas di sekeliling kita. Udara yang digunakan adalah udara yang telah dimodifikasi atau istilah ilmiahnya modified atmosphere packaging (MAP). Udara yang dimodifikasi ini, kandungan terbesarnya berupa gas nitrogen, selain karbon dioksida dan oksigen. Dengan demikian, kondisi udara yang penuh dengan uap air sudah tidak terjadi lagi di dalam kemasan.
Selain mencegah terjadinya melempem pada snack, mekanisme MAP ini juga bertujuan untuk mencegah pertumbuhan mikroba, reaksi oksidasi, dan paparan sinar matahari juga untuk memberikan kestabilan pada produk dalam proses pendistribusiannya.
Dilansir dari situs wittgas.com, terdapat beberapa manfaat ketika kita memanfaatkan teknologi MAP pada produk makanan. Pertama, produk makanan akan memiliki kecepatan kerusakan yang sangat lambat, apalagi jika dikombinasikan dengan proses pendinginan. Umur simpan produk akan meningkat dua kali lipat sehingga kualitasnya dapat dipertahankan dalam waktu yang lebih lama. Kedua, teknologi ini dapat mengurangi limbah yang diakibatkan oleh kerusakan produk. Ketiga, dapat memperluas distribusi produk hingga ke penjuru dunia karena umur simpan produk yang tahan lama. Keempat, MAP mampu mereduksi bahkan menghilangkan bahan-bahan pengawet yang digunakan untuk mengawetkan makanan. Terakhir, kelebihan penggunaan MAP yaitu mampu meningkatkan kenampakan produk sehingga lebih menarik minat konsumen.
Kelebihan-kelebihan tersebut terbukti melalui hasil penelitian Susilo dkk. (2015) bahwa dengan metode atmosfer termodifikasi, jamur tiram putih dapat bertahan selama 3 hari pada perlakuan A (21 % O2) dan B (12,4 – 12,5 % O2), dan bertahan selama 4 hari pada perlakuan C (9,2 – 9,3 % O2), D (5,9 – 6,1 % O2), dan E (3,5 – 3,7 % O2). Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Sianipar (2010) bahwa fillet ikan yang disimpan dalam kemasan pada suhu ruang dengan komposisi gas 60% CO2/40% N2 mampu menambah masa simpan 1-4 jam.
Di samping itu, ada pula keterbatasan dari penggunaan teknologi MAP. Dilansir dari witt.com, produk  berkemasan MAP beresiko mengalami kegagalan karena prosesnya yang cukup rumit. Misalnya, diperlukan kecermatan dalam mengatur kadar gas yang digunakan, memastikan bahwa kemasan tidak bocor dan tidak terkontaminasi gas lain, dan lain sebagainya. Kemudian, teknologi ini juga dinilai kurang ekonomis. Selain itu, teknologi ini juga mampu mempengaruhi mutu produk. Misalnya, konsentrasi gas CO2 yang tinggi dapat membuat gas CO2 terserap oleh produk dan membuat makanan menjadi asam.    
            Produk-produk makanan yang memakai teknologi MAP dalam pengemasannya bukan hanya snack, tetapi juga produk daging dan sosis, produk ikan dan seafood, produk susu, roti, kue, buah, sayur, pasta, daging siap santap, kacang-kacangan, wine, dan kopi.
            Dengan demikian, pemberian udara kemasan pada makanan ringan atau snack bukan lah suatu muslihat atau itikad buruk dari industri pangan untuk menjebak konsumennya. Namun, jauh lebih penting dari itu adalah supaya kualitas produk yang dikemas dapat dipertahankan lebih lama dan tidak mudah mengalami kerusakan. Jadi, jangan ragu lagi untuk membeli produk dengan kemasan yang berangin ya!

Referensi:

Susilo, B., Agustiningrum, D. A., & Indriani, D. W. (2017). Pengaruh Penyimpanan Atmosfer Termodifikasi (Modified Atmosphere Storage/MAS) terhadap Karakteristik Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Agritech36(4), 369-378.
Wittgas. How Modified Atmosphere Packaging Extends The Shelf Life of Food Products. Diakses tanggal 03 Mei 2018. Terdapat di https://www.wittgas.com/us/consulting-service/white-papers/modified-atmosphere-packaging.html
Sianipar, E. H. 2010. Pengaruh Pengemasan Atmosfer Termodifikasi PAda Fillet Ikan Patin (Pangasius hypopthalamus) dalam Penyimpanan Susu Ruang dan Suhu Dingin. Skripsi. Institut Pertanian Bogor, Kota Bogor.

Peringatan!!!
Dilarang meng-copy post ini secara illegal, kecuali jika kamu mendapatkan izin dari penulis atau dengan mencantumkan sitasi URL pada blog atau tugasmu.
Hargailah penulis OK!!!

No comments:

Post a Comment